Rokat Tasek Budaya Warisan Leluhur Madura

Manusia sebagai mahluk social melakukan aktifitasnya dalam memenuhi kebutuhan dengan cara  berkomunikasi, dalam sebuah gambaran budaya adalah bagaimana seseorang menyampaikan sesuatu lewat bahasa atau symbol tertentu, dalam komunikasi menurut carga setiap manusia perlu menciptakan symbol dan sebagai penggunaan dalam aktifitasnya dimana symbol tersebut dapat menjadi sebuah tradisi / kebiasaan dalam kehidupan manusia.

Sebuah tradisi dalam setiap lingkungan tidaklah ada perbedaan makna  namun ada sedikit pemandangan unik pada  masyarakat di sekitar pesisir madura  mereka yang menghuni pinggiran  laut dan bermata pencaharian sebagai nelayan, rokat tasek merupakan ritual yang sudah ditradisikan oleh masyarakat madura secara turun temurun sebagai bentuk rasa terima kasih mereka kepada sang ‘pemilik’ laut yang telah memberikan penghasilan berupa ikan dan hasil laut yang lain.

Jika dimadura disebut rokat tasek  beda halnya dengan dipesisir jawa yang lebih dikenal  dengan larung sesaji namun dengan substansi yang sama dan dipercaya masyarakat sebagai ritual tolak bala’ (menolak musibah) bahkan sebagian  masyarakat menganggap wajib adanya melaksanakan rokat tasek  masyarakat menilai itu merupakan  wujud syukur  terhadap rezeki yang mereka dapatkan dari sang maha kuasa, pelaksanaan rokat tasek dilaksanakan satu tahun sekali saat masa panen atau melimpahnya hasil tangkapan ikan bahkan saat terjadi banyak musibah yang menimpa nelayan  .

Tradisi yang syarat dengan unsur islami ini tidak serta merta dilaksanakan dengan sembarangan karena dalam pelaksanaan rokat tasek  tidak jarang harus dibentuk panitia khusus, sebelum pelaksanaannya terlebih dahulu harus menyediakan sesaji yang mana sesaji itu terbuat dari hasil bumi masyarakat setempat baik sayuran dan tumbuhan yang ada dipekarangan penduduk bersama itu diiringi dengan istighosah bersama oleh tokoh agama setempat.

Namun adanya rokat tasek tak jarang mengundang pro kontra di kalangan masyarakat awam, karena konon tradisi yang sudah menjadi budaya turunan nenek moyang ini dianggap menjerumuskan masyarakat pada lembah syirik, karena bagi orang yang tidak begitu paham makna dari tradisi ini menganggap nelayan memberikan sesaji pada jin-jin atau memedi yang dipercaya menjaga laut tersebut.

Sebuah anggapan yang tidak membuat masyarakat pesisir gundah dan menghilangkan tradisi  kuno ini, adapun Pelepasan sesaji sebelum dilarung ketengah laut sesaji diarak mengelilingi desa dan nelayan mempersiapkan ketek atau semacam perahu kecil yang dihias dan diberikan benda yang mewakili kepemilikan para nelayan tersebut sebagai wujud ketakwaan kepada sang maha rahman  bahwa apapun yang mereka dapat kan semata-mata milik Nya dan pasti kembali kepada Nya.

Pada dasar nya kebudayaan yang sudah terlahir dalam sebuah masyarakat pasti akan tetap bertahan dan berkembang, jika masyarakat masih menganggap kebudayaan tersebut memiliki nilai, norma yang baik dan sakral, karena mengubah hal yang sudah menjadi tradisi yang sudah menjadi kehidupan mereka sangat tidak mudah.

0 komentar:

Follow me @AhmadSayadi_